Oleh: Rosa Listyandari
SUATU malam saya dihadapkan pada kondisi yang tidak mengenakkan, saya harus mengendarai motor, konvoi bersama suami, beriring-iringan selama dua jam. Kami menembus hutan belantara dalam perjalanan panjang yang berliku-liku dan meliuk-liuk di pegunungan, 75 km menuju area remote (pinggiran).
Awalnya saya agak tak enak hati membayangkan perjalanan malam yang menyeramkan. Bagaimana kalau ban motor bocor? Bagaimana kalau hujan deras? Belum lagi hawa dingin yang menyerang. Seiring rasa tak enak hati saya, keberangkatan kami naik motor sendiri-sendiri pun ditentang orang-orang di sekitar saya. Mereka kasihan dan tidak tega melihat saya. Saya maklum, bahkan terharu ternyata banyak orang yang menyayangi, mengkhawatirkan dan memperhatikan saya. Itu yang saya petik dari larangan-larangan mereka.






BANYAK hal dapat kita kerjakan karena ada anak-anak di sekitar kita. Tingkah polah mereka memberi warna hidup kita sebagai orang dewasa; baik dalam berkarya maupun dalam aktivitas kehidupan yang penuh cinta. Sulit rasanya melepaskan setiap ingatan maupun inspirasi dari dunia kecil mereka. Seperti halnya diri saya, setiap karya yang saya tuliskan, hampir selalu ada motivasi dari anak-anak.
MUSIM bermain rubik kini muncul kembali. Anak-anak sibuk mengutak-atik rubik. Begitupun anak saya. Dia membongkar kembali mainan rubik lamanya. Tapi rupanya rubiknya itu berkualitas jelek, tidak lancar diputar-putar dan gambarnya terlalu rumit. Maklum…, dulu harganya juga murah. Melihat teman-temannya mempunyai rubik yang berkualitas bagus, dia ingin membeli rubik baru. Namun, belum lama dia habis minta dibelikan kaus, hingga dia tidak berani minta dibelikan rubik. Uang di dompetnya, yang berasal dari mengumpulkan uang saku, tidak mencukupi untuk membeli rubik. Saat saya di jalan, dia menelepon hendak membuka tabungan recehnya. Ya, saya hormati keputusannya. Toh uang itu miliknya, hasil menyisihkan uang jajan. Akhirnya keesokan harinya dia membeli rubik di Gramedia bersama tantenya, sepulang kegiatan di sekolah.
SUATU ketika anak saya minta dibelikan canting dan kain mori. Dia dan teman-teman akan diajari membatik oleh guru mereka. Wow…, sangat menarik! Dia begitu antusias. Walau pola yang telah dibuat di sekolahan salah, dia tidak putus asa, mengulangi di rumah dengan tekun. Ketika gurunya memuji karyanya bagus, dia luar biasa senangnya.







