
Oleh: Rosa Listyandari
BIASA…, seorang ibu yang merasa peduli kepada anaknya pasti sering cerewet tanya ini-itu pada anak-anaknya. Berbeda dengan bapak-bapak yang lebih cenderung diam, tapi kadang malah bisa lebih menggelegar bila anak berbuat kesalahan yang serius.
Saya pun seperti layaknya ibu-ibu yang merasa peduli akan perkembangan anak, sering menginterogasi anak tentang macam-macam. Sepulang sekolah, saya rajin bertanya tentang kegiatan di sekolah, tentang nilai-nilainya. Suatu ketika saya tanyai dia berapa nilai ulangannya, lalu dia jawab sambil mengambil hasil ulangannya. Saya lega, nilainya lumayan bagus, 97.






SEORANG motivator andal, yang menyebut dirinya sebagai motivator spiritual, Mario Teguh, hampir dalam setiap kesempatan tampil di televisi, menyelipkan kalimat seperti ini, “Lalu …perhatikan apa yang terjadi?” atau “Jika Anda…, maka…, itu!”
HIDUP memerlukan keseimbangan, begitu pun dalam kehidupan keluarga. Anak-anak akan merasa tertekan, misalnya, jika orang tua hanya berantem 'mulu. Atau ketika orang tuanya sibuk terus-menerus tanpa memiliki waktu memerhatikan mereka. Bagaimanapun, anak-anak adalah "manusia kecil" yang belum memahami apa makna kesibukan dan apa arti aktivitas orang tuanya. Hal yang mereka tahu adalah perhatian harus tertuju kepada mereka. Itu sederhananya.
SEPERTI halnya orang tua, sudah pasti anak terkadang merasakan kejenuhan menjalani segala aktivitasnya. Mungkin anak merasakan kegiatan yang monoton, itu-itu saja, baik itu di rumah maupun di sekolah. Oleh karenanya, perlu ada beberapa terobosan segar yang diberikan bagi anak-anak.







