Melly Kiong: Mendidik Anak itu Sangat Sederhana

E-mail Print PDF

MENDIDIK anak beragam caranya. Dari dulu hingga kini, orang tua selalu berusaha mengantar anaknya menjadi orang yang sukses, berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Sebisa mungkin stres dan kegagalan terhindarkan dari kehidupan orang tua dalam membimbing anak-anak. Maka tak berlebihan banyak orang menjadi khawatir lalu bertanya apakah mendidik anak itu sesuatu yang sulit dan rumit. “Melalui seminar saya, banyak orang tua yang terbuka matanya bahwa ternyata mendidik itu sangatlah sederhana,” ujar Melly Kiong, penulis buku Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak dengan Baik? dan Cara Kreatif Mendidik Anak ala Melly Kiong.

Melly menjalani kehidupan rumah tangganya dengan suami, Tatang Wijaya, telah dikaruniai buahati, Julian (13 th) dan Matthew Liem (9 th). Perjalanan suka-duka dalam mendidik anak dituangkannya dalam buku-bukunya juga melalui seminar-seminarnya yang inspiratif dan memberi pencerahan kepada para orang tua. Berikut perbincangan Herry Prasetyo dari buahaticerdas dengan perempuan kreatif penerima penghargaan Muri ini.

Apa yang mendorong Anda menulis buku?
Saya hanya ingin berbagi dengan khalayak luas, khususnya wanita, bahwa sebagai seorang istri atau seorang ibu, kita harus siap secara mental jika suatu keadaan terjadi dengan pasangan hidup. Itulah kondisi yang saya hadapi ketika kecil di mana papa saya meninggal pada usia yang sangatlah muda. Mama saya sangat tidak sanggup menanggung beban karena tidak siap. Untuk itulah saya berusaha sekuat tenaga untuk membangun kemandirian dengan cara saya, yang ternyata sangat inspiratif buat semua yang membaca buku saya. Buku saya juga mendapat penghargaan Muri.

Tentang penghargaan Muri, bisa Anda jelaskan latar belakangnya?
Saya mendapatkan penghargaan Muri itu karena keikhlasan Bapak Jaya Suprana dalam memberikan support buat anak Indonesia. Ketika saya presentasikan apa yang saya lakukan dengan menunjukkan map kuning saya, ternyata beliau sangatlah terkesan. Beliau mengatakan andaikan semua orang tua bisa melakukan hal yang demikian dengan cinta, maka akan selamatlah generasi kita ke depan. Kategori Muri sebagai pedoman parenting buat ibu di sektor publik.

Bisakah Anda jelaskan satu contoh saja cara mendidik anak?
Mendidik kreatif contohnya bagaimana dengan satu buah permen saya bisa mengambil banyak intisari: bahwa sebagai orang tua saya berani mengakui saya belum mengajarkan anak untuk membuka permen sehingga dia selalu minta tolong. Ajari mereka dan beri mereka kesempatan. Puji mereka ketika mereka bisa. Pesankan mental juang bahwa sebelum meminta tolong, mereka harus usaha terlebih dahulu. Ini hanya lewat sebutir permen.

Selain menulis, apa aktivitas Anda?
Saya sekarang memberikan seminar dengan tujuan mengajak orang tua untuk mendidik anak dari rumah. Ada juga kegiatan sosial yang berkaitan dengan pendidikan mental juang di dunia pendidikan.

Tema apa saja yang menarik untuk Anda?
Saya paling suka dengan tema family dan ke depan saya akan terus menulis berbagai macam buku yang telah saya rasakan manfaatnya yang akan saya namakan membangun keluarga Indonesia ala Melly Kiong, dimana buku pertama sebagai fondasi, buku ke-2 sebagai temboknya, buku ke-3 sebagai gentengnya, dan buku ke-4, 5 dan 6 sebagai aksesori di dalam sebuah rumah bahkan sampai bangun pagar di buku ke-7 dan ke-8.

Latar belakang apa yang mendorong para orang tua berminat mengikuti seminar Anda?
Sebenarnya setelah saya jalankan semua orang perlu seminar saya karena di situ banyak orang tua yang terbuka matanya, bahwa ternyata mendidik itu sangatlah sederhana. Kelihatannya ada kecenderungan orang tua kehilangan inisiatif untuk mendidik anak-anak zaman sekarang alias kurang kreatif.

Kalau orang tua kurang kreatif, bagaimana menyiasatinya?
Saya mengajak orang tua untuk introspeksi dan mau berubah menjadi lebih baik. Selama dua tahun perjalanan saya banyak orang tua yang akhirnya sadar bahwa mereka salah selama ini. Memang touching dalam seminar saya yang beda. Saya selalu mengajak orang tua untuk menyadari bahwa kita pernah jadi anak-anak, namun anak-anak belum pernah jadi orang tua. Dan mengajak orang tua untuk melihat bagaimana egoisnya diri kita. Syukurlah selama ini terus berguna.

Banyak anak stres menghadapi situasi dan kondisi saat ini, apa kiat Anda untuk hal ini?
Sebenarnya anak-anak stres dikarenakan orang tua, guru dan lingkungan yang stres duluan. Ini bisa dilawan dengan menghadiri seminar saya tentang cara kreatif yang telah saya kembangkan menjadi sangat sederhana.

Bagaimana peran negara dalam memperhatikan anak-anak?
Menurut saya harus ada tindakan nyata, kadang saya melihat banyak sekali kegiatan yang berupa seremoni, habiskan anggaran namun tidak nyata hasilnya. Rasanya mental demikian harus diubah, dan yang paling mudah adalah selamatkan anak-anaknya dengan pola asuh yang baik dan benar mulai dari rumah. Kampanye kepedulian orang tua sangatlah penting.

Banyak anak berbakat dan berprestasi akhirnya "dibajak" oleh negara lain. Bagaimana menurut Anda?
Kalau bicara anak yang berprestasi dan berbakat akhirnya dibajak oleh negara lain, sebagai bentuk dari kurangnya sensitivitas negara akan penghargaan bagi prestasi anak negeri. Hal ini harus ada goodwill dari pemerintah untuk mengubahnya. Jika tidak kita akan kehilangan anak-anak berprestasi. Ini semua disebabkan bahwa mereka punya harapan yang bisa diberikan negara lain. Sulit sekali dikaitkan dengan nasionalisme.

Apa saran Anda seandainya ada orang tua yang mempersiapkan sejak dini anaknya agar mandiri, mengasah bakat dan kemampuan anak, karena merasa khawatir jika hanya mengandalkan pendidikan formal, anaknya malah mengalami kegagalan kelak ketika dewasa?
Jika yang dipersiapkan memang sesuai dengan bakat yang dimiliki oleh anak, tentunya tidak masalah, asal jangan semata karena ketakutan orang tua dengan membabi buta. Masalah pendidikan formal yang kurang menunjang itu yang sedang saya lakukan, bahwa banyak hal yang tidak kita dapatkan di sekolah, misalnya sopan santun, peduli, konsekuen, semua ada saya bekali dalam homebasedlearning yang ada di rumah saya. Jika semua orang tua mau melakukannya saya yakin akan sangatlah luar biasa.

Tentang obsesi orang tua, misalnya kasus saya sendiri ingin anak saya pintar bahasa Inggris karena saya tidak pintar berbahasa Inggris saat sekolah. Tapi saya tidak memaksakan diri kepada anak untuk belajar keras dalam hal bahasa Inggris. Saya hanya bercerita kepada anak, kalau bisa bahasa Inggris, nanti mudah kalau keliling dunia. Nah, anak ternyata malah tertarik dan termotivasi untuk belajar. Sekarang anak saya di kelas 2 SD, nilai bahasa Inggrisnya bagus. Apa pendapat Anda tentang obsesi orang tua dengan keinginan anak?
Sejauh kita yakin dengan kebaikan yang kita maksudkan bagi anak-anak dan kita bisa membaca sejauh mana bisa diterima mereka seharusnya tidak jadi masalah. Hal yang penting komunikasikan dengan mereka. Contohnya anak saya juga tidak terlalu suka bahasa Mandarin, saya selalu katakan bahwa bahasa Mandarin adalah salah satu bahasa yang mem-back up Mama bisa sejajar dengan para manajer lulusan hebat. Tapi sayang Mama hanya tidak bisa baca tulis, jadi kami minta mereka belajar. Awalnya sulit, tapi kita ceritakan banyak hal yang inspiratif, akhirnya mereka mau mendengarkannya.

Saran atau masukan apa yang akan Anda sampaikan di luar pertanyaan saya tentang parenting ini?
Saya hanya mengimbau para orang tua untuk mau mendidik dengan lebih bijaksana dan harus sesuaikan bakat dan minat anak-anak, supaya terlahir generasi yang lebih bahagia. Orang tua yang harus lebih berperan dan tidak bisa menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab kepada sekolah. Mengingat waktu anak ada di rumah dan lingkungan lebih banyak dibanding di sekolah. Hanya dengan cinta kita bisa mendidik dengan bahagia.

Kualitas sebuah bangsa yang hebat tergantung bagaimana kualitas masyarakatnya, kualitas masyarakat tergantung pada kualitas keluarganya dan kualitas keluarga tergantung pada bagaimana orang tua mendidik anak-anaknya.*****




 

Polling

Buku apa yang paling dibutuhkan buah hati Anda?
 

Jumlah Tamu

We have 3 guests online

Buku Promo