Oleh: Rosa Listyandari
ANAK-ANAK pasti tidak ingin kasih sayang orang tua dan orang-orang terdekat di sekelilingnya tercerabut begitu saja dan beralih pada orang lain. Oleh karenanya, kita harus selalu memikirkan gerak-gerik kecemburuan anak kita. Dan kita harus maklum kalau anak-anak cemburu.
Suatu ketika ada keponakan datang ke rumah orang tua saya. Kebetulan anak saya tinggal di rumah ibu saya dan ketika itu saya ada di situ. Semua penghuni rumah menyerbu keponakan saya itu. Keponakan saya memang nggemesin, dia masih lucu-lucunya, umur satu setengah tahunan waktu itu. Rasanya saat itu dia menjadi kenduri di rumah neneknya. Semua orang menggoda dia, mencium, mencubit pipi, atau menggelitikinya.
Tanpa sadar, saya lihat sepasang mata mengawasi adegan kenduri itu. Raut wajahnya terlihat masam. Lantas saya dekati anak saya yang saat itu berusia sembilan tahun. Dia cemberut sambil berkata, “Kenapa sih semua sama Dea?” Lalu dia meneteskan air mata. Dia merasa orang-orang rumah yang selama ini memperhatikan dan menggodanya berpaling pada adik sepupunya itu. Eit…, saya buru-buru memberi pengertian padanya, “Kamu dulu waktu kecil juga begitu, siapa-siapa mendekati, menyayang, dan menggoda. Tapi sekarang kamu sudah besar, gantian Dea yang digoda. Kamu mungkin lupa, tapi besok Dea juga akan lupa kalau besar. Lagian setiap harinya kamu di sini, Dea tidak. Jadi, kamu juga harus maklum dong!” Muka anak kecil itu berangsur-angsur wajar.
Akhirnya saya berpikir juga, saya harus memberi porsi wajar ketika memperhatikan anak orang lain. Bagaimanapun anak kita harus mendapat porsi perhatian yang lebih banyak daripada anak orang lain. Semua itu kita lakukan untuk meredam kecemburuan yang berlebihan pada anak kita. Dan ketika anak saya memberi batasan, saya boleh menggendong keponakan, tetapi tidak terlalu lama, mau tak mau harus saya turuti. Saya berusaha menghargai peraturannya, seperti dia harus taat juga pada keinginan saya.
Kawan saya juga memiliki pengalaman tentang kecemburuan anak. Dia mempunyai tiga orang anak, perempuan semua. Menurut kawan saya, anak yang terkecil tabiat dan sifatnya lebih terpuji dari kakak-kakaknya. Dia lebih sopan, lebih berempati pada sesama, dan lebih mudah diajak kompromi. Dua kakaknya cemburu melihat adiknya ini yang pintar mengambil hati orang lain. Mereka malah lebih sering menggoda adiknya hingga menangis. Adiknya ini diusili terus. Anehnya, kakak-kakaknya begitu sayang pada sepupunya yang masih kecil. Suatu hari ketika keponakan teman saya itu main ke rumah, anak teman saya yang besar itu sibuk bermain dengannya.
Teman saya melihat anaknya yang bungsu menangis tersedu-sedu di sudut ruang tamu, di bawah keyboard. Didekatinya anak itu dan ditanya kenapa menangis. Rupanya anak itu cemburu, kakaknya sayang pada sepupunya. Dan rupanya pula kakak-kakaknya itu cemburu pada adik bungsu. Si adik sangat dekat dengan ibunya dan paling sering diajak ke mana-mana. Oleh karenanya, kakak-kakak sering mengusili dia. Tapi nampaknya si bungsu ini anak yang sensitif, tahu kecemburuan kakak-kakaknya, hingga dia terkadang tidak mau diajak pergi mamanya karena takut kakak-kakaknya marah.
Kawan saya tetap mengajak anak bungsunya pergi dan menyuruh dia agar tidak terlalu memikirkan omongan kakak-kakaknya. Dia berkata bahwa dulu kakak-kakaknya juga sering diajak pergi waktu sekecil dia. Saya pun membenarkan perkataan teman saya karena memang anak pertama sudah duduk di bangku SMA, anak kedua kelas empat SD, sedang anak bungsu baru TK. Teman saya itu pun merasa lebih senang mengajak anak bungsu karena dia sopan, ramah, dan supel pada siapa pun.
Ada cerita lain, seseorang sangat baik pada keponakannya. Ketika bertemu dengan keponakannya itu, dia selalu menimang-nimang penuh pujian. Tetapi suatu ketika, saya melihat dia memarahi habis-habisan anaknya gara-gara sulit makan. Sampai-sampai ibu itu menjejal-jejalkan makanan dengan paksa di mulut anaknya sembari mengomel-omel terus. Namun jika menyuapi keponakannya, dia sangat telaten dan manis sekali. Tentu saja anaknya protes dengan menunjukkan raut masam. Ya…, anak itu sudah pasti cemburu.
Rasa cemburu pada anak dapat juga disebabkan oleh ketidakadilan guru di sekolah. Saya pun pernah merasakannya. Ada guru yang selalu dekat dengan teman saya karena teman saya itu cantik. Teman saya itu selalu mendapat nilai yang bagus, padahal hasil karyanya lebih jelek dibanding anak-anak yang lain. Bagaimana ini? Harusnya orang-orang dewasa dapat berbuat adil pada anak-anak. Begitupun orang tua, harus adil pada anak-anaknya. Guru juga harus adil pada murid-muridnya. Ungkapan “pilih kasih” seharusnya sudah tidak pantas lagi terucap dari mulut anak-anak.
Ya…, jangan ciptakan suasana yang membuat anak-anak menjadi cemburu. Bila kecemburuan itu datang juga, kita harus bijaksana menyikapinya. Jangan membuat anak yang cemburu menjadi tambah terluka. Berikan pengertian yang menyejukkan hatinya dengan penjelasan yang rasional pula. Pasti dia akan mengerti juga. Percayalah, kawan!*****











