Oleh: Rosa Listyandari
ANAK-ANAK pasti tidak ingin kasih sayang orang tua dan orang-orang terdekat di sekelilingnya tercerabut begitu saja dan beralih pada orang lain. Oleh karenanya, kita harus selalu memikirkan gerak-gerik kecemburuan anak kita. Dan kita harus maklum kalau anak-anak cemburu.
Suatu ketika ada keponakan datang ke rumah orang tua saya. Kebetulan anak saya tinggal di rumah ibu saya dan ketika itu saya ada di situ. Semua penghuni rumah menyerbu keponakan saya itu. Keponakan saya memang nggemesin, dia masih lucu-lucunya, umur satu setengah tahunan waktu itu. Rasanya saat itu dia menjadi kenduri di rumah neneknya. Semua orang menggoda dia, mencium, mencubit pipi, atau menggelitikinya.






SUATU malam saya dihadapkan pada kondisi yang tidak mengenakkan, saya harus mengendarai motor, konvoi bersama suami, beriring-iringan selama dua jam. Kami menembus hutan belantara dalam perjalanan panjang yang berliku-liku dan meliuk-liuk di pegunungan, 75 km menuju area remote (pinggiran).
MUSIM bermain rubik kini muncul kembali. Anak-anak sibuk mengutak-atik rubik. Begitupun anak saya. Dia membongkar kembali mainan rubik lamanya. Tapi rupanya rubiknya itu berkualitas jelek, tidak lancar diputar-putar dan gambarnya terlalu rumit. Maklum…, dulu harganya juga murah. Melihat teman-temannya mempunyai rubik yang berkualitas bagus, dia ingin membeli rubik baru. Namun, belum lama dia habis minta dibelikan kaus, hingga dia tidak berani minta dibelikan rubik. Uang di dompetnya, yang berasal dari mengumpulkan uang saku, tidak mencukupi untuk membeli rubik. Saat saya di jalan, dia menelepon hendak membuka tabungan recehnya. Ya, saya hormati keputusannya. Toh uang itu miliknya, hasil menyisihkan uang jajan. Akhirnya keesokan harinya dia membeli rubik di Gramedia bersama tantenya, sepulang kegiatan di sekolah.





